MAKASSAR – Keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada kelancaran produksi Air Susu Ibu (ASI) maupun teknik menyusui yang benar. Lebih dari itu, kesehatan mental ibu menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan pemberian ASI eksklusif kepada bayi. Pesan tersebut disampaikan Praktisi Bidan, Peneliti, dan Dosen Poltekkes Kemenkes Mamuju, Dr. Satriani G., S.ST., M.Kes, dalam refleksinya menyambut Hari Ikatan Bidan Nasional.
Founder SATRIA Wellness Homecare dan SATRIA Academy itu menegaskan, ibu yang merasa bahagia, aman, dan mendapat dukungan dari lingkungan akan lebih mudah menjalani proses menyusui. Sebaliknya, tekanan psikologis seperti stres, kecemasan, hingga depresi pascamelahirkan dapat menghambat hormon oksitosin yang berperan dalam pengeluaran ASI.
“Ketika seorang ibu bahagia, ia memiliki kekuatan untuk memberi kehidupan terbaik bagi bayinya, termasuk melalui setiap tetes air susu yang mengalir dengan penuh cinta,” ujar Dr. Satriani.
Ia mengisahkan pengalaman saat mendampingi seorang ibu yang hampir menyerah menyusui bayi berusia dua minggu. Bukan karena produksi ASI bermasalah, melainkan karena ibu tersebut merasa sendirian, kelelahan, cemas, dan kehilangan kepercayaan diri sebagai seorang ibu.
Menurutnya, kondisi tersebut banyak dialami ibu pascamelahirkan dan sering kali luput dari perhatian.
Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mengalami depresi pascamelahirkan memiliki risiko sekitar 2,5 kali lebih besar menghentikan pemberian ASI sebelum bayi berusia dua bulan dibandingkan ibu tanpa gangguan kesehatan mental.
Dr. Satriani juga mengingatkan masyarakat agar mampu membedakan antara baby blues dan depresi pascamelahirkan. Baby blues umumnya berlangsung beberapa hari hingga dua minggu setelah persalinan. Namun, apabila perasaan sedih, putus asa, kecemasan berlebihan, sulit tidur, kehilangan minat merawat bayi, hingga muncul pikiran menyakiti diri sendiri berlangsung lebih dari dua minggu, maka kondisi tersebut memerlukan penanganan profesional.
Dalam pandangannya, peran bidan saat ini tidak cukup hanya mengajarkan teknik menyusui. Bidan juga harus mampu melakukan skrining kesehatan mental, memberikan dukungan emosional, serta menjadi tempat yang aman bagi ibu untuk menyampaikan keluhan tanpa rasa takut dihakimi.
Ia turut mendorong penerapan konsep mindful breastfeeding, yakni praktik menyusui dengan kesadaran penuh melalui kontak emosional antara ibu dan bayi. Pendekatan ini terbukti mampu menurunkan tingkat kecemasan ibu sekaligus meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Selain tenaga kesehatan, keluarga juga memiliki peran besar dalam menjaga kesehatan mental ibu. Dukungan pasangan, bantuan dalam mengurus bayi maupun pekerjaan rumah, serta kehadiran kelompok pendukung ASI menjadi bagian penting dari ekosistem keberhasilan menyusui.
Momentum Hari Ikatan Bidan Nasional, lanjut Dr. Satriani, menjadi pengingat bahwa profesi bidan tidak hanya membantu proses persalinan, tetapi juga mendampingi perempuan menjalani masa-masa penting setelah melahirkan.
“Saya mengajak seluruh rekan bidan di Indonesia menjadikan skrining kesehatan mental sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari asuhan kebidanan. Jadikan empati sebagai alat diagnostik pertama sebelum stetoskop, karena di balik setiap bayi yang tumbuh sehat dengan ASI, selalu ada ibu yang mampu bertahan, dan di balik ibu yang mampu bertahan selalu ada tangan-tangan bidan yang setia menopang,” tutupnya.

Komentar