MAKASSAR_Civitas akademika Universitas Islam Makassar (UIM) melaksanakan shalat ghaib sebagai bentuk doa dan penghormatan atas wafatnya sejumlah tokoh dan insan akademik, yakni Almarhumah Hj. Margaret Aliyatul Maimunah (Ketua Umum Fatayat NU), DR. Nursyam, S.Pd., M.Pd. (Dosen PGSD FKIP UIM), Jenderal (Purn.) H.
Try Sutrisno, serta Syekh Ali Khamenei yang diberitakan wafat akibat serangan Amerika–Israel.Shalat ghaib yang berlangsung khidmat di Masjid Kampus UIM tersebut dipimpin langsung oleh Rektor Universitas Islam Makassar, Prof. Dr. H. Muammar Bakry, Lc., M.Ag., dan diikuti oleh para dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa.
Dalam sambutannya, Prof. Muammar Bakry menyampaikan bahwa shalat ghaib ini merupakan wujud solidaritas, empati, dan ukhuwah Islamiyah.“Sebagai kampus Nahdlatul Ulama, UIM memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk mendoakan para tokoh bangsa dan ulama yang telah wafat.
Shalat ghaib ini bukan sekadar ritual, tetapi juga pengingat bagi kita semua tentang pentingnya pengabdian, keikhlasan, dan perjuangan dalam kehidupan,” ujar beliau.Rektor juga menegaskan bahwa kepergian Almarhumah Hj. Margaret Aliyatul Maimunah meninggalkan jejak perjuangan panjang dalam organisasi perempuan dan perlindungan anak, sementara DR. Nursyam merupakan sosok pendidik yang berdedikasi dalam membina calon guru di lingkungan FKIP UIM.
Demikian pula Jenderal (Purn.) H. Try Sutrisno yang dikenal sebagai tokoh bangsa, serta Syekh Ali Khamenei sebagai figur ulama yang berpengaruh di dunia Islam.Pelaksanaan shalat ghaib berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Barisan jamaah yang terdiri dari pimpinan universitas, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa tampak larut dalam doa, memohonkan ampunan dan tempat terbaik di sisi Allah SWT bagi para almarhum dan almarhumah.
Sebagai perguruan tinggi yang bernaung dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, UIM menegaskan komitmennya untuk terus menanamkan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan dalam setiap aktivitas akademik dan sosialnya.Kegiatan ini menjadi momentum refleksi bersama bahwa setiap insan memiliki batas usia, namun nilai perjuangan dan keteladanan akan tetap hidup dalam ingatan dan karya.

Komentar