Hukum & Kriminal
Beranda / Hukum & Kriminal / Polisi Bubarkan Konvoi di Jalan Toddopuli, Remaja 18 Tahun Diduga Tewas Tertembak

Polisi Bubarkan Konvoi di Jalan Toddopuli, Remaja 18 Tahun Diduga Tewas Tertembak

Indonesianpost.id, Makassar Seorang remaja berusia 18 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah diduga terkena tembakan saat aparat kepolisian membubarkan aksi konvoi yang disertai perang-perangan menggunakan senjata mainan di Jalan Toddopuli Raya, Kecamatan Panakukkang, Makassar, Minggu (1/3).

Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban sempat dilarikan ke RS Bhayangkara Makassar untuk mendapatkan perawatan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Ibu korban, Desi Manutu (41), mengaku mengetahui kabar tersebut saat berada di Jakarta. Ia menerima informasi bahwa anaknya dibawa ke rumah sakit, tetapi pada awalnya tidak diberi tahu bahwa sang anak telah meninggal dunia.

“Saya dapat kabar anak saya dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara. Namun tidak diberi tahu kalau dia meninggal,” ujarnya, Rabu (4/3).

Sekitar satu jam kemudian, Desi kembali menerima kabar bahwa putranya telah meninggal dan diduga terkena tembakan aparat saat pembubaran konvoi remaja yang disebut berujung tawuran. Ia mengaku terkejut dan mempertanyakan tindakan tersebut.

Ancaman 10 Tahun Penjara, Polisi Tetapkan Bripda P Tersangka Penganiayaan Berujung Kematian

Menurut keterangan yang diterimanya dari pihak keluarga, korban disebut mengalami luka tembak di bagian belakang tubuh. Namun Desi tidak dapat memastikan secara langsung karena saat tiba di Makassar, jenazah anaknya telah berada di dalam peti.

“Mereka bilang terkena tembakan di pantat, tapi saya tidak lihat langsung,” tuturnya lirih.

Ia juga mengungkapkan sempat melihat kondisi wajah anaknya yang tampak bengkak ketika berada di dalam peti.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, insiden itu terjadi di sekitar kantor PLN di Jalan Toddopuli.
Korban disebut masih dalam keadaan hidup ketika pertama kali dibawa ke fasilitas kesehatan.

“Anak saya masih hidup saat dibawa. Dia sempat minta air minum. Tapi kondisinya sangat drop, tidak lama kemudian dia meninggal,” kata Desi.

Atas permintaan keluarga, autopsi terhadap jenazah korban telah dilakukan untuk memastikan penyebab kematian. Proses tersebut diminta sejak Desi masih berada di Jakarta, dan kini keluarga menunggu hasil resminya.

Desi juga menyampaikan kronologi yang ia peroleh dari pihak kepolisian. Disebutkan bahwa awalnya aparat melepaskan tembakan peringatan ke udara. Namun dalam proses pengamanan, senjata yang dipegang salah satu anggota diduga kembali meletus dan mengenai korban.

Pihak kepolisian disebut menyatakan insiden itu tidak disengaja.Meski demikian, Desi mengaku tidak dapat menerima kejadian tersebut dan berharap proses hukum berjalan secara terbuka serta tuntas.

“Saya harap pelaku diproses hukum. Masa anak saya ditembak seperti teroris. Agar anak saya tenang di alam sana,” ujarnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *