‎Opini
Beranda / ‎Opini / Ketika Gelar Menjadi Penjara “Idealisme Pendidikan di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja”

Ketika Gelar Menjadi Penjara “Idealisme Pendidikan di Tengah Sulitnya Lapangan Kerja”

MAKASSAR _Indonesia hari ini sedang menghadapi ironi besar dalam dunia pendidikan dan ketenagakerjaan. Di satu sisi, angka lulusan perguruan tinggi terus meningkat setiap tahun. Kampus-kampus tumbuh di berbagai daerah, akses pendidikan semakin terbuka, dan gelar sarjana masih dianggap sebagai simbol keberhasilan sosial.

Namun di sisi lain, pengangguran terdidik terus menjadi persoalan yang tidak pernah benar-benar selesai. Banyak sarjana kesulitan mendapatkan pekerjaan, kehilangan arah setelah wisuda, bahkan merasa tidak mampu memulai hidup karena terjebak pada gengsi atas gelar yang dimilikinya.

Fenomena ini bukan sekedar persoalan individu yang “terlalu memilih pekerjaan”. Ada akar masalah yang jauh lebih dalam cara bangsa ini memaknai pendidikan telah lama bergeser dari proses pembentukan manusia menjadi sekedar alat legitimasi status sosial. Gelar akademik tidak lagi hanya dipandang sebagai hasil dari proses belajar, tetapi juga simbol kelas sosial, ukuran keberhasilan keluarga, bahkan standar penghormatan di tengah masyarakat.

Akibatnya, banyak anak muda tumbuh dengan keyakinan bahwa setelah menjadi sarjana, mereka harus memiliki pekerjaan yang terlihat mapan, bergengsi, sesuai jurusan, dan diakui lingkungan sekitar.Narasi itu terus diwariskan secara turun-temurun. Orang tua rela bekerja keras menyekolahkan anak dengan harapan suatu hari sang anak “tidak susah lagi”.

Sekolah dan kampus sering menggambarkan kesuksesan dalam bentuk pekerjaan formal dengan jabatan tertentu. Media sosial pun memperkuat ilusi itu kehidupan profesional yang rapi, kantor nyaman, dan standar pencapaian yang seragam. Padahal realitas hidup jauh lebih kompleks dibanding narasi keberhasilan yang dibangun selama ini.

Semarak HUT ke-81 RI di RHIS, Siswa Antusias Ikuti Beragam Perlombaan

Dunia kerja hari ini berubah sangat cepat. Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan ketidakstabilan global membuat pola kerja tidak lagi berjalan linear. Banyak perusahaan melakukan efisiensi, lapangan kerja formal semakin kompetitif, sementara kebutuhan hidup terus meningkat. Dalam situasi seperti ini, kemampuan bertahan dan beradaptasi justru menjadi keterampilan paling penting.

Namun sayangnya, sebagian lulusan perguruan tinggi justru dibesarkan dalam pola pikir yang terlalu kaku pekerjaan harus sesuai jurusan, penghasilan harus langsung besar, dan profesi tertentu dianggap lebih terhormat dibanding pekerjaan lain.Di titik inilah gelar sarjana sering berubah menjadi penjara psikologis.

Banyak lulusan akhirnya enggan memulai pekerjaan kecil karena takut dipandang gagal. Ada yang memilih menganggur bertahun-tahun demi menunggu pekerjaan “yang cocok”, sementara peluang di depan mata diabaikan hanya karena dianggap tidak sesuai strata pendidikan. Tidak sedikit yang malu menjadi pekerja proyek, pengemudi ojek online, pedagang kecil, pekerja lepas, atau membuka usaha sederhana setelah lulus kuliah.

Padahal di tengah situasi ekonomi hari ini, keberanian mengambil peluang sekecil apa pun jauh lebih penting dibanding sibuk menjaga citra sosial.Persoalan ini memperlihatkan bahwa bangsa kita masih terlalu mudah memuliakan simbol, tetapi kurang menghargai proses perjuangan hidup. Kita lebih kagum pada titel di belakang nama dibanding kemampuan seseorang bertahan menghadapi kenyataan.

Sarjana yang menganggur kadang masih dianggap lebih “berkelas” daripada mereka yang bekerja keras di lapangan demi membantu keluarga dan menciptakan penghasilan. Cara pandang seperti inilah yang perlahan membentuk generasi rapuh tinggi ekspektasi, tetapi rendah kesiapan menghadapi realitas.

‎Deepfake Dan Krisis Kepercayaan: Ketika Wajah Dan Suara Bisa Dipalsukan

Padahal hakikat pendidikan tinggi tidak pernah sesempit urusan gelar dan profesi. Pendidikan seharusnya membentuk cara berpikir yang matang, kemampuan membaca persoalan, kepekaan sosial, daya juang, serta keberanian mencari solusi dalam keadaan apa pun.

Kampus semestinya melahirkan manusia yang adaptif, bukan manusia yang hanya siap hidup dalam situasi ideal. Sebab realitas bangsa ini memang belum sepenuhnya ideal.Kita harus jujur mengakui bahwa negara juga memiliki tanggung jawab besar dalam persoalan ini.

Ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan ketersediaan lapangan kerja menunjukkan adanya persoalan struktural yang belum selesai. Pertumbuhan pendidikan tinggi tidak selalu diiringi pembangunan ekosistem kerja yang sehat. Banyak lulusan akhirnya harus bertarung sendiri di tengah ekonomi yang tidak pasti.

Namun dalam situasi seperti itu, yang dibutuhkan bukan sekedar keluhan, melainkan perubahan cara pandang tentang makna bekerja dan makna pendidikan itu sendiri.Hari ini bangsa ini membutuhkan generasi yang tidak gengsi memulai dari bawah. Sebab sejarah membuktikan bahwa banyak usaha besar lahir dari pekerjaan yang awalnya dipandang kecil. Banyak orang sukses justru tumbuh dari keberanian mengambil peluang sederhana yang diremehkan orang lain.

Tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan jujur dan bertanggung jawab. Yang seharusnya memalukan bukan bekerja di luar jurusan, melainkan kehilangan kemauan untuk berusaha hanya karena takut penilaian sosial.Kita juga perlu menyadari bahwa relevansi pendidikan tidak selalu harus diukur dari kesamaan antara jurusan dan pekerjaan.

Rudin Tamsil Linrung Jadi Ruang Dialog Istana dan Oposisi

Di era modern, seseorang bisa belajar satu bidang tetapi bertumbuh di bidang lain. Sarjana hukum bisa menjadi pengusaha digital. Lulusan teknik bisa membangun usaha kreatif. Sarjana komunikasi bisa bekerja di proyek sosial, UMKM, atau industri digital. Dunia hari ini menuntut fleksibilitas, bukan kekakuan identitas profesi.Karena itu, sudah saatnya masyarakat berhenti menanamkan standar kesuksesan yang sempit kepada generasi muda.

Pendidikan tinggi tidak boleh hanya menjadi alat mencetak pencari kerja, tetapi juga harus melahirkan pencipta peluang. Sarjana tidak boleh dididik menjadi generasi yang terlalu takut mencoba, terlalu sibuk menjaga gengsi, dan terlalu bergantung pada validasi sosial.Di tengah kondisi bangsa yang penuh tantangan ekonomi hari ini, bekerja apa pun dengan jujur adalah bentuk keberanian.

Bertahan hidup dengan cara yang halal adalah martabat. Dan menciptakan peluang dari keterbatasan adalah kecerdasan yang sesungguhnya. Sebab pada akhirnya, hidup tidak bertanya seberapa panjang gelar di belakang nama kita, tetapi seberapa mampu kita berdiri menghadapi keadaan, beradaptasi dengan perubahan, dan tetap memberi manfaat bagi orang lain di tengah situasi yang tidak mudah.

Pada akhirnya, gelar sarjana tetaplah sesuatu yang patut dihargai. Ia adalah simbol perjuangan, pengorbanan orang tua, waktu, tenaga, dan proses panjang dalam menempuh pendidikan. Namun penghargaan terhadap gelar tidak boleh berubah menjadi batas yang membuat seseorang takut memulai, malu bekerja, atau enggan menghadapi realitas kehidupan.

Pendidikan sejatinya tidak hadir untuk menjauhkan manusia dari pekerjaan-pekerjaan sederhana, melainkan untuk membentuk manusia yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih siap menghadapi perubahan zaman. Sebab ilmu yang sesungguhnya bukan hanya terlihat dari profesi yang dimiliki, tetapi dari kemampuan seseorang untuk bertahan, terus belajar, dan tetap rendah hati dalam keadaan apa pun.Karena itu, jangan biarkan gelar menjadi penjara bagi masa depan kita sendiri.

Jadikan pendidikan sebagai pijakan untuk tumbuh, beradaptasi, dan menciptakan peluang. Sebab di tengah dunia yang terus berubah, mereka yang mampu bergerak tanpa gengsi, bekerja tanpa malu, dan bertahan tanpa menyerah adalah mereka yang pada akhirnya akan menemukan jalan hidupnya sendiri.

Penulis Dawita Rama

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *