Nasional ‎Pendidikan Religi
Beranda / Religi / Jelang Muktamar ke-35 NU, Idrus Marham Luncurkan Buku Bahas Tantangan Peradaban dan Arah NU Abad Kedua

Jelang Muktamar ke-35 NU, Idrus Marham Luncurkan Buku Bahas Tantangan Peradaban dan Arah NU Abad Kedua

JAKARTA — Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), penulis sekaligus tokoh nasional Idrus Marham akan meluncurkan buku berjudul Nahdlatul Ulama & Tantangan Peradaban di Ballroom Novotel Jakarta Cikini, Jakarta Pusat, Senin (24/8/2026).

Peluncuran buku tersebut akan dirangkai dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah tokoh NU dan nasional. Di antaranya Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj dan Prof. Dr. H. Kamaruddin Amin, Ketua Umum PP ISNU yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Kementerian Agama.Sejumlah tokoh lainnya juga akan menjadi pembedah buku, yakni Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji, SE, MA, Dr. KH. Endin AJ Soefihara, Dr. H. Andi Jamaro Dulung, dan Dr. KH. Samsul Ma’arif.

Koordinator Panitia Penyelenggara, Purwanto M. Ali, mengatakan peluncuran buku tersebut tidak ditempatkan sekadar sebagai kegiatan literasi. Forum ini diharapkan menjadi ruang untuk membahas berbagai tantangan yang akan dihadapi NU ketika memasuki abad kedua.

Menurut Purwanto, perjalanan NU selama lebih dari satu abad telah membentuk modal sosial yang besar. Namun, warisan sejarah tersebut perlu diterjemahkan menjadi kekuatan untuk menjawab berbagai persoalan baru.“NU tidak cukup hanya melihat kembali kebesaran sejarahnya.

Memasuki abad kedua, yang jauh lebih penting adalah bagaimana kebesaran sejarah itu menjadi modal untuk menjawab tantangan masa depan,” kata Purwanto di Jakarta, Ahad (23/8/2026).Ia mengatakan perubahan masyarakat berlangsung semakin cepat. Transformasi digital dan kecerdasan buatan, perubahan ekonomi, ketimpangan sosial, persoalan kesejahteraan, geopolitik global, krisis lingkungan hingga perubahan karakter generasi muda akan turut menentukan wajah masyarakat pada masa mendatang.

Kado Penghargaan Menyalakan Literasi Santri di Ponpes Al-Ikhlas Buton Tengah

Dalam situasi tersebut, organisasi keagamaan sebesar NU dinilai perlu menjaga tradisi keagamaan yang telah mengakar sekaligus meningkatkan kemampuan membaca perubahan dan menawarkan solusi bagi persoalan masyarakat.

“NU memiliki pesantren, ulama, santri, akademisi, profesional, pengusaha, dan jaringan sosial yang sangat luas. Pertanyaannya adalah bagaimana seluruh modal sosial tersebut dapat ditransformasikan menjadi kekuatan ilmu pengetahuan, pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Purwanto yang juga menjabat Wakil Ketua Umum Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS), Ketua Umum KOPRABU, serta Fungsionaris PP P2N, menilai ukuran kebesaran organisasi pada masa depan tidak cukup hanya dilihat dari jumlah anggota maupun luas jaringan.Menurutnya, masyarakat pada akhirnya akan menilai sebuah organisasi berdasarkan seberapa besar manfaat yang mereka rasakan.

Karena itu, buku Nahdlatul Ulama & Tantangan Peradaban diharapkan menjadi salah satu pintu masuk untuk membahas kembali peran strategis NU dalam kehidupan keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan.Buku tersebut memuat refleksi mengenai posisi NU dalam menghadapi perubahan zaman, merawat peradaban, sekaligus meneguhkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan umat manusia.

Purwanto mengatakan kehadiran Said Aqil Siraj, Kamaruddin Amin serta sejumlah pembedah dengan latar belakang berbeda akan memperkaya perspektif dalam membicarakan masa depan NU.Kamaruddin Amin akan membawa perspektif akademik, keagamaan dan pemerintahan.

Kedutaan Besar Amerika Serikat Buka Pendaftaran Program Pertukaran FLEX Global bagi Pelajar Indonesia

Sementara Muhammad Sarmuji diharapkan memberikan perspektif kebangsaan dan politik dalam membaca hubungan NU dengan dinamika masyarakat Indonesia.Menurut Purwanto, kehadiran Sarmuji menjadi penting karena masa depan NU tidak dapat dipisahkan dari dinamika kehidupan kebangsaan. Namun, pembicaraan mengenai NU dan politik, kata dia, tidak semestinya berhenti pada perebutan kekuasaan atau politik praktis.

“NU terlalu besar apabila hanya diletakkan dalam kerangka politik praktis. Politik NU harus dibaca dalam pengertian yang lebih luas, yakni politik kebangsaan dan kemaslahatan. Bagaimana NU menjaga Indonesia, memperkuat persatuan, demokrasi, pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Pertemuan antara ulama, akademisi, aktivis organisasi dan tokoh politik dalam forum tersebut diharapkan membuka ruang dialog yang lebih substantif mengenai posisi NU pada masa depan.Sebagai penulis, Idrus Marham juga akan menjelaskan latar belakang serta gagasan utama yang melandasi penulisan buku tersebut.

Peluncuran buku ini berlangsung tiga hari sebelum Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.Kedekatan waktu tersebut dinilai memberikan momentum tersendiri untuk membahas tantangan peradaban sekaligus arah perjalanan NU setelah muktamar.

Menurut Purwanto, perhatian menjelang muktamar biasanya lebih banyak tertuju pada dinamika kepemimpinan. Padahal, terdapat persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni gagasan dan arah strategis NU setelah muktamar.

Pelindo Regional 4 Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Makassar

“Menjelang muktamar, orang tentu berbicara tentang siapa yang akan memimpin NU. Itu wajar. Tetapi ada pertanyaan yang lebih substantif: ke mana NU akan dibawa dan gagasan besar apa yang akan diperjuangkan pada abad keduanya?” ujarnya.

Ia berpandangan, muktamar semestinya menjadi momentum untuk mempertemukan dua agenda, yakni memilih kepemimpinan sekaligus memperjelas arah strategis organisasi.NU juga dinilai perlu terus memperkuat tradisi intelektual yang telah lama hidup di lingkungan pesantren dan organisasi tersebut.

Kehadiran buku, diskusi dan pertukaran gagasan penting agar perdebatan mengenai masa depan NU tidak semata-mata berkutat pada figur dan jabatan.“NU memiliki sejarah besar. Tetapi organisasi besar tidak bisa hanya hidup dari kebesaran masa lalu. Kebesaran sejarah harus menjadi energi untuk menciptakan kebesaran baru di masa depan,” kata Purwanto.

Ia berharap peluncuran dan bedah buku tersebut dapat melahirkan perdebatan yang kritis sekaligus konstruktif mengenai peran NU dalam menghadapi perubahan di Indonesia dan dunia.

“NU merupakan bagian penting dari perjalanan bangsa ini. Karena itu, ketika kita membicarakan masa depan NU, sesungguhnya kita juga sedang membicarakan salah satu bagian penting dari masa depan Indonesia,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *