‎Opini
Beranda / ‎Opini / ‎Deepfake Dan Krisis Kepercayaan: Ketika Wajah Dan Suara Bisa Dipalsukan

‎Deepfake Dan Krisis Kepercayaan: Ketika Wajah Dan Suara Bisa Dipalsukan

Sekitar akhir Oktober 2024 beredar video Presiden Joko Widodo berpidato dengan ‎bahasa Mandarin yang fasih. Beberapa pihak, termasuk Kementerian Komunikasi dan ‎Informatika, mengatakan bahwa video itu hasil suntingan yang menyesatkan, karena aslinya ‎merupakan unggahan YouTube Masyarakat Indonesia-Amerika Serikat (USINDO) pada 13 ‎November 2015. Video tersebut sudah diedit sedemikian rupa dengan memanfaatkan ‎”deepfake”, yang merupakan jenis kecerdasan buatan (AI) yang bisa membuat foto, audio dan ‎video, hampir sama dengan yang aslinya.‎Sehingga video Jokowi itu termasuk disinformasi untuk memperkuat narasi negatif‎bahwa pemerintahan Presiden Joko Widodo dikendalikan oleh China. Hal ini biasa terjadi‎ketika menjelang atau selama pemilihan umum berlangsung, termasuk di India, Taiwan, ‎Prancis, Filipina, Brazil, dan Amerika Serikat seperti pada pemilu 2024 di Indonesia.‎Era ketika wajah dan suara siapapun bisa saja dipalsukan dengan adanya HP dan ‎internet. Teknologi ini dinamakan deepfake. Awalnya hanya untuk hiburan. Sekarang menjadi ‎ancaman serius bagi demokrasi, hukum, agama, dan kepercayaan sosial. Artikel ini akan ‎membahas: apa itu deepfake, kenapa berbahaya di konteks Indonesia, dan bagaimana kita ‎bertahan tanpa kehilangan kepercayaan satu sama lain.‎1. PENGERTIAN DEEPFAKE‎Deepfake merupakan singkatan dari deep learning dan fake. Secara sederhana, ini ‎merupakan sistem AI yang dibuat untuk meniru gambar, video, dan suara palsu yang hampir‎mirip dengan aslinya. Cara kerja deepfake ini seperti: dua program AI “berlawan”. Yang satu ‎membuat wajah palsu dan satunya lagi menebak “ini asli atau palsu”. Mereka uji coba berkali‎kali sampai yang terlihat seperti aslinya. Pada 2018, membuat deepfake butuh komputer ‎mahal dan tim ahli di bidangnya. Tahun 2026, hanya butuh 3 hal: 1 foto wajah, 30 detik ‎suara, dan aplikasi gratis seperti HeyGen, D-ID, atau ElevenLabs. Di Indonesia setiap hari ‎kita ketemu dengan versi ringannya seperti Filter “jadi tua” di TikTok. “Ganti wajah” di IG. ‎”Clone suara” yang membuat konten. Itu deepfake versi hiburan. Masalahnya mulai muncul ‎ketika teknologi yang sama digunakan dengan 3 tujuan: politik, penipuan, dan pelecehan.‎1. ‎EEPFAKE RAWAN TERJADI?‎Deepfake tidak terjadi di semua negara dan resiko terjadinya juga berbeda-beda. Contoh ‎negara yang marak terjadi deepfake adalah di Indonesia. Indonesia memiliki 4 “bahan bakar” ‎yang bisa membuat deepfake terlihat sangat berbahaya:‎Pertama: Kesenjangan Literasi Digital ‎Menurut survei Kominfo 2023, indeks literasi digital Indonesia 3.54 dari skala 5. Artinya ‎Indonesia jago dalam penggunaan aplikasi, akan tapi lemah dalam memverifikasi informasi. ‎oimana Orang tua di kampung akan lebih percaya Ketika “ada videonya” daripada baca ‎berita.‎Kedua: Budaya Cek Belakangan “Forward Dulu ” ‎Indonesia sebagai negara dengan pengguna WhatsApp terbesar ke-2 di dunia. Info mudah ‎menyebar lewat grup RT, grup arisan, grup alumni. Kecepatan penyebarannya 100x lipat dari ‎media-media mainstream. Jika sudah viral, klarifikasinya telat.‎Ketiga: Polarisasi Politik dan Agama Tinggi‎Isu SARA adalah titik kelemahan kita. Deepfake dianggap paling efektif jika sudah‎menyentuh emosi: marah, takut, benci. 1 video palsu saja “ustadz menjelekkan NU” atau ‎”capres menghina Islam” bisa membuat kericuhan dan bahkan memecah komunitas dalam ‎semalam saja.‎Keempat: Data Pribadi Tersebar‎Foto kita ada di IG, TikTok, Facebook. Suara kita ada di story, reels, podcast. Ibaratnya ‎penjahat tidak susah mencari informasi untuk digunakan membuat deepfake diri kita.1. ‎TEORI KOMUNIKASI: KETIKA REALITAS KITA DIKULTIVASI OLEH AI‎Dalam memahami dampak suatu deepfake kita perlu ilmu komunikasi. Saya akan ‎menggunakan gabungan 2 teori:‎Teori Kultivasi – George Gerbner‎Gerbner tahun 1969 meneliti efek TV. Menyimpulkan bahwa ketika sering menonton TV, ‎semakin sering juga akan percaya pada dunia nyata sama halnya di TV. Dunia akan terlihat ebih kejam dan berbahaya. Apalagi sekarang “TV” digantikan dengan “TikTok, Reels, dan ‎AI”. Jika setiap hari kita menonton video tokoh yang marah-marah, video hoaks, video ‎palsu, maka otak kita secara tidak sengaja akan “dikultivasi” dengan 2 keyakinan: 1. ‎”Dunia dengan penuh kebohongan”2. ‎”Aku cuman percaya yang sejalan denganku”‎Akhirnya kita menganggap hal lain tidak penting. Tidak percaya akan media, tidak percaya ‎pemerintah, tidak percaya tetangga. Inilah yang kita sebut dengan mean world syndrome ‎versi digital.‎Social Construction of Reality – Berger & Luckmann‎Pendapat dari Teori ini menganggap bahwasanya realitas itu dibangun secara sosial. Apa yang ‎dianggap “benar” terbentuk dari hasil cerita, simbol, dan bukti yang yang ada secara ‎langsung. Deepfake merupakan “pabrik realitas” baru. Dimana ia menciptakan suatu ‎”peristiwa” yang tidak akan terjadi. Seperti: video demo rusuh tidak ada. Video pejabat ‎korupsi yang tidak akan ada. Jika 1 juta orang saja melihat dan percaya, maka tercipta ‎”realitas palsu” yang menjadikannya nyata secara sosial. Dampaknya: demo, kebencian, ‎perpecahan. Sintesis: Deepfake mengultivasi ketidakpercayaan dengan terus-menerus ‎memproduksi realitas palsu.1. ‎DAMPAK PSIKOLOGIS DAN SOSIAL DI MASYARAKAT‎Dampaknya tidak langsung kelihatan, tapi merusak secara perlahan ketika:1. ‎Kelelahan Verifikasi: Merasa Cape Ketika melihat video yang harus mikir ini “asli ‎atau palsu”. Lama-lamaan orang akan merasa susah untuk percaya apapun.1. ‎Berkurangnya Kepercayaan pada Institusi: Jika pidato presiden bisa dipalsukan, maka ‎hal-hal lainnya terasa tidak bisa dipercaya lagi. Seperti kita akan meragukan jumpa ‎pers, putusan pengadilan, bahkan pada pengumuman BMKG.1. ‎Dampak “Diam” dari Tokoh Publik: Aktivis, jurnalis, ulama akan takut bicara. Karena ‎omongannya bisa saja dipotong dan dibuat deepfake yang lebih ekstrem lagi.1. ‎Hancurnya Kepercayaan Sosial: contohnya video “pak RT korupsi” beredar. ‎Walaupun video tersebut palsu, nama baiknya akan rusak. Di era sekarang ini‎masyarakat yang berbasis “rasa malu” dianggap fatal.‎‎5. APA YANG SUDAH DAN BISA DILAKUKAN?‎Solusi dalam mempertahankan kepercayaan dilandasi dengan 4 lapis pertahanan:‎Lapis 1: Teknologi‎Perusahaan besar seperti Meta, Google, TikTok wajib memberikan label “Dibuat dengan AI”. ‎Ada juga teknologi yang disebut “watermark digital” yang tidak dapat dilihat mata tapi bisa ‎dibaca oleh mesin. Tekhusus di Indonesia, BPPT dan BRIN sedang mengembangkan “AI ‎Detector” berbahasa Indonesia. Tapi perlu diketahui bahwa teknologi deteksi akan selalu ‎berada selangkah di belakang teknologi pemalsuan.‎Lapis 2: Hukum dan Regulasi‎UU ITE Pasal 27 dan 28 dapat digunakan untuk jerat pelaku. Tapi tidak spesifik mengatakan ‎bahwa itu “deepfake”. Negara lain berada lebih maju. Uni Eropa punya “AI Act” yang ‎wajibkan label. China wajibkan watermark. Indonesia butuh revisi UU ITE atau PP khusus ‎tentang bagaimana Konten Sintetis.‎Lapis 3: Literasi dan Pendidikan‎Literasi dan Pendidikan sangat penting dan paling mungkin. Kita perlu mengajarkan ‎”PAKEM Cek Fakta” ke semua umur, Pause: Jangan langsung share atau transfer, Amati: Cek ‎keanehan. Kedipan mata, bayangannya, suara robot, Konfirmasi: Hubungi langsung ‎orangnya. Cek ke sumber resmi, Edukasi: Laporkan ke Kominfo aduan konten.id, Mikir: ‎Siapa yang akan untung jika saya percaya akan hal tersebut?. Sekolah, kampus, majelis ‎taklim, arisan ibu-ibu juga harus jadi tempat edukasi.‎Lapis 4: Etika Media dan Kreator‎Media arus utama harus memiliki SOP: semua video yang viral wajib diverifikasi terlebih ‎dahulu sebelum tayang. Influencer jugamemiliki tanggung jawab. Jangan menggunakan‎deepfake hanya untuk prank yang menyinggung.‎‎PENUTUP: ‎DI ERA WAJAH PALSU, JUJUR ADALAH MATA UANG‎Deepfake sebagai ujian. Ujian terhadap demokrasi, ujian bagi hukum, dan ujian terhadap jiwa ‎kemanusiaan kita. Teknologi ini netral jika digunakan semestinya, seperti membantu ‎membantu pasien bisu bicara, digunakan sutradara dalam menghidupkan kembali pahlawanpahlawan. Tapi bisa juga digunakan untuk menyelasaikan masalah dan hal buruk yang bisa ‎terjadi bisa memecah bangsa dengan 30 detik video. Pilihannya ada di kita bagaimana ‎menggunakannya. Apakah akan menjadi masyarakat yang sinis dan saling curiga? Atau jadi ‎masyarakat yang lebih kritis, lebih sabar, dan lebih menghargai kebenaran yang ada. Di era ‎ketika wajah dan suara kita bisa dipalsukan, maka satu-satunya hal yang tidak bisa dipalsukan ‎adalah bagaimana hati nurani dan tanggung jawab kita untuk menyebarkan informasi yang ‎didapat. Sebelum menekan tombol “forward” atau membagikan, ingat: 1 klik Anda bisa ‎membangun atau menghancurkan kepercayaan seseorang.‎‎

Saraswati Baharuddin Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Fajar-Makassar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *