Update Cepat
Beranda » Berita » KAMMI Makassar Serukan Stop Perang Kelompok: Jangan Biarkan Kota Hidup dalam Ketakutan!

KAMMI Makassar Serukan Stop Perang Kelompok: Jangan Biarkan Kota Hidup dalam Ketakutan!

Indonesianpost.id, Makassar –
Maraknya aksi perang kelompok di sejumlah wilayah Kota Makassar menjadi perhatian serius Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Daerah Makassar. Rentetan konflik antarkelompok pemuda yang terjadi belakangan ini tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga telah menimbulkan korban jiwa dan mencederai rasa aman masyarakat, Kamis (5/11/2026).

Berdasarkan sejumlah pemberitaan, aksi tawuran kembali terjadi di kawasan Jalan Bunga Ejaya dan Jalan Abubakar Lambogo pada 1 November 2026. Bahkan, pada 4 November 2026, aparat kepolisian melakukan penindakan di sejumlah lokasi rawan tawuran dan mengamankan 27 orang beserta sejumlah barang bukti.

Merespons kondisi tersebut, Ketua Umum KAMMI Daerah Makassar, Sahrul Ariansyah, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian dan memperkuat tanggung jawab bersama dalam menjaga keamanan lingkungan.

Menurut Sahrul, Makassar merupakan rumah bersama yang harus dijaga oleh seluruh lapisan masyarakat. Tidak boleh ada pihak yang merasa memiliki hak untuk menciptakan ketakutan dan mengganggu ketenteraman warga melalui aksi kekerasan.

“Jangan biarkan kota ini hidup dalam ketakutan. Makassar adalah rumah kita bersama. Anak-anak harus bisa tumbuh dengan aman, masyarakat harus bisa beraktivitas dengan tenang, dan setiap warga berhak mendapatkan lingkungan yang damai,” tegasnya.

Perkuat Dakwah dan Cegah Premanisme, PARMUSI Makassar Gencarkan Literasi Al-Qur’an

Ia menilai, persoalan perang kelompok tidak cukup diselesaikan melalui penindakan hukum semata. Dibutuhkan kepedulian keluarga, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah setempat, serta seluruh elemen pemuda untuk membangun kesadaran dan mencegah konflik sejak dini.

Sahrul juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi maupun ajakan yang berpotensi memperkeruh keadaan. Menurutnya, budaya saling menyerang dan membalas dendam hanya akan melahirkan persoalan baru serta memperpanjang rantai kekerasan.

“Jangan karena persoalan segelintir orang, masyarakat luas harus menanggung akibatnya. Jangan sampai generasi muda kehilangan masa depannya hanya karena terjebak dalam konflik yang tidak membawa manfaat apa pun,” lanjutnya.

Lebih jauh, ia mengajak para orang tua untuk meningkatkan pengawasan dan perhatian terhadap aktivitas anak-anaknya, sekaligus memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkembang melalui kegiatan pendidikan, keagamaan, olahraga, dan aktivitas sosial yang positif.

KAMMI Daerah Makassar juga mengajak mahasiswa dan organisasi kepemudaan untuk mengambil peran aktif sebagai perekat persaudaraan di tengah masyarakat. Pemuda harus menjadi bagian dari solusi, bukan justru menjadi pelaku yang memperpanjang konflik.

Demo Prabowo-Gibran di Unhas Berujung Ricuh, Satu Mahasiswa Diamankan Polisi

“Kita tidak ingin hanya ramai ketika perang kelompok terjadi, kemudian diam setelah situasi mereda. Harus ada kepedulian dan langkah nyata untuk menjaga lingkungan. Mari saling menjaga, saling mengingatkan, dan membangun kembali semangat persaudaraan,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Sahrul mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menghentikan segala bentuk kekerasan dan menjaga kondusivitas Kota Makassar.

“Stop Perang Kelompok! Makassar adalah rumah kita bersama. Jaga anak-anak kita, jaga lingkungan kita, dan jangan mudah terprovokasi. Mari wujudkan Makassar yang aman, damai, dan kondusif.”

APPS Dorong Dialog Kritis tentang Kebebasan Berpendapat dan Penegakan Hukum di Ruang Demokrasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *