MAKASSAR _Hari itu dikenang sebagai Hari Kebangkitan Nasional, momentum lahirnya kesadaran bahwa bangsa ini harus bangkit dari ketertinggalan dan perpecahan. Namun bagi keluarga besar Pondok Pesantren An Nahdlah, tanggal itu menyimpan makna yang jauh lebih mendalam dan emosional.Pada 20 Mei 2013, pendiri Pondok Pesantren An Nahdlah, KH. Muh. Harisah, berpulang ke rahmatullah.
Dan tepat pada 20 Mei 2026 ini, haul beliau memasuki tahun ke-13, bersamaan dengan genap empat puluh tahun usia Pondok Pesantren An Nahdlah.Sebuah kebetulan yang terasa seperti rangkaian takdir penuh makna.An Nahdlah, yang berarti “kebangkitan”, bukan sekadar nama pesantren. Ia adalah cita-cita perjuangan yang ditanamkan Anregurutta sejak awal.
Beliau mendirikan pesantren bukan hanya untuk menghadirkan ruang belajar, tetapi untuk membangkitkan umat melalui ilmu, akhlak, dan pendidikan.Empat puluh tahun lalu, pesantren ini tumbuh dari kesederhanaan. Dari ruang yang terbatas, dari fasilitas yang jauh dari kemewahan, lahirlah semangat besar untuk mencetak generasi yang berilmu dan beradab. Di tangan Anregurutta, pesantren menjadi tempat lahirnya harapan bagi masyarakat kecil yang ingin anak-anaknya mengenal agama, ilmu pengetahuan, dan masa depan yang lebih baik.Kini, empat dekade telah berlalu.
Ribuan alumni telah tersebar di berbagai daerah, menjadi guru, dai, akademisi, pengusaha, birokrat, dan pelayan masyarakat. Semua menjadi saksi bahwa perjuangan seorang ulama tidak pernah berhenti pada dirinya sendiri. Ia terus hidup melalui murid-muridnya.Anregurutta KH. Muh. Harisah dikenal sebagai sosok yang teguh, ikhlas, dan sangat konsisten dalam mengajarkan ilmu agama.
Hingga akhir hayatnya, beliau tetap mengajar kitab kuning setiap waktu subuh dan magrib. Dalam keadaan sehat maupun sakit, beliau tetap hadir membimbing santri-santrinya dengan kesabaran dan ketulusan yang luar biasa.Keteguhan itu menjadi pelajaran besar bahwa pendidikan bukan sekadar profesi, melainkan pengabdian seumur hidup.
Dari halaqah-halaqah kecil di masjid pesantren itulah lahir generasi-generasi yang membawa cahaya ilmu ke tengah masyarakat.Di tengah zaman yang berubah begitu cepat, nilai-nilai itu justru terasa semakin mahal. Ketika banyak generasi muda kehilangan arah, pesantren tetap menjadi benteng moral yang menjaga akhlak dan spiritualitas. Dan selama empat puluh tahun, An Nahdlah terus berdiri menjalankan amanah itu.
Haul XIII ini bukan sekadar mengenang wafatnya seorang pendiri. Ini adalah momentum untuk membaca ulang warisan perjuangan beliau. Sebab kebangkitan yang diwariskan Anregurutta bukan hanya kebangkitan lembaga, tetapi kebangkitan cara berpikir, kebangkitan akhlak, dan kebangkitan umat.
Hari Kebangkitan Nasional tahun ini terasa begitu istimewa. Karena di saat bangsa berbicara tentang kebangkitan Indonesia, keluarga besar An Nahdlah juga sedang mengenang sosok yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk membangkitkan generasi melalui pendidikan pesantren.
Empat puluh tahun An Nahdlah adalah bukti bahwa perjuangan yang dibangun dengan keikhlasan tidak akan mudah runtuh oleh zaman. Dan tiga belas tahun setelah kepergian beliau, nama Anregurutta KH. Muh. Harisah masih hidup dalam doa-doa santri, dalam lantunan ayat suci di masjid, dalam langkah para guru, dan dalam harapan masyarakat yang terus percaya kepada pesantren ini.Karena sesungguhnya, ulama besar tidak pernah benar-benar pergi.
Mereka tetap hidup dalam ilmu yang diajarkan dan dalam cahaya yang terus dinyalakan oleh generasi penerusnya.

Komentar