Update Cepat
Beranda / Update Cepat / IKA Unhas Siapkan Rp 1,5 Miliar untuk Modal Usaha Mahasiswa Yatim

IKA Unhas Siapkan Rp 1,5 Miliar untuk Modal Usaha Mahasiswa Yatim

Makassar – Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) menyiapkan bantuan modal usaha senilai Rp 1,5 miliar bagi mahasiswa baru Unhas angkatan 2026 melalui program Akademi Wirausaha IKA Unhas.
Bantuan tersebut tidak wajib dikembalikan dan ditujukan untuk mendorong mahasiswa menjadi wirausahawan muda.

Sebanyak 33 calon peserta mengikuti presentasi rencana bisnis di lantai III AAS Building, Makassar, Jumat (16/10/2026).
Mereka terpilih setelah melalui proses seleksi dari 467 mahasiswa baru yang sebelumnya mengikuti sosialisasi program tersebut.

Ketua Panitia Pelantikan IKA Unhas, Muhammad Ramli Rahim, mengatakan seleksi dilakukan untuk menjaring mahasiswa yang memiliki kesungguhan dan potensi dalam mengembangkan usaha.
Para peserta diminta memaparkan ide bisnis, strategi pemasaran, hingga kebutuhan modal.

“Setelah kami kurasi, akhirnya tersisa 33 calon peserta. Dan hari ini, kami undang seluruh calon peserta untuk memaparkan rencana bisnis mereka,” kata Ramli.

Ramli menjelaskan, anggaran awal yang disiapkan untuk program tersebut mencapai Rp 1,5 miliar. Nilai bantuan itu masih berpeluang bertambah karena para alumni dan pengurus IKA Unhas lainnya dipersilakan ikut berkontribusi.

APPS Dorong Dialog Kritis tentang Kebebasan Berpendapat dan Penegakan Hukum di Ruang Demokrasi

“Kami siapkan anggaran bantuan modal kepada para mahasiswa baru yang betul-betul berkeinginan menjadi seorang pengusaha. Ini masih berpotensi bertambah karena semua alumni, apalagi pengurus, boleh berpartisipasi,” ujarnya.

Dia menegaskan, bantuan modal tersebut tidak mewajibkan mahasiswa mengembalikan dana yang diterima. Namun, mahasiswa yang nantinya berhasil mengembangkan usahanya diharapkan memiliki kepedulian untuk mengembalikan bantuan secara sukarela agar dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa lainnya.

“Jika dikembalikan, maka dana itu akan kami salurkan kembali kepada mahasiswa Unhas yang ingin berbisnis,” jelas mantan Ketua Umum Senat Mahasiswa FMIPA Unhas tersebut.

Meski tidak wajib dikembalikan, Ramli mengingatkan agar bantuan digunakan sesuai peruntukannya, yakni untuk kegiatan usaha. IKA Unhas juga menyiapkan mekanisme pembelian kebutuhan bisnis melalui organisasi tersebut guna memastikan dana digunakan secara tepat sasaran.

“Harus untuk berbisnis,” tegasnya.
Dia mencontohkan, jika peserta membutuhkan peralatan untuk menjalankan usaha, kebutuhan tersebut dapat diajukan kepada IKA Unhas. Selanjutnya, proses pembelian dan pembayaran dilakukan langsung oleh pihak IKA Unhas.

Raup Rp 750 Juta Sebulan, BPOM Ungkap Pabrik Kosmetik Ilegal di Mojokerto

Sekretaris Jenderal IKA Unhas, Prof Murtir Jeddawi, menambahkan program Akademi Wirausaha tidak hanya berorientasi pada pemberian modal. Program ini juga menjadi sarana untuk menguji kejujuran, tanggung jawab, dan integritas para peserta.

“Kita ingin bantuan modal yang diberikan IKA Unhas betul-betul digunakan untuk berwirausaha, bukan untuk hal lain,” kata Murtir.

Sementara itu, Direktur AAS Foundation, A Rezky Muliadi, menilai program tersebut memiliki nilai sosial karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar berwirausaha sekaligus mendapatkan dukungan dalam merintis bisnis.

“Kegiatan ini merupakan kegiatan sosial. Selain dibantu, para mahasiswa juga diberi kesempatan untuk belajar berwirausaha,” ujar pria yang akrab disapa Eki tersebut.

Mahasiswa Presentasikan Ide Bisnis, dari Minuman hingga Sekam Padi. Dalam sesi presentasi, para peserta memaparkan beragam rencana usaha di hadapan Muhammad Ramli Rahim, A Rezky Muliadi, dan Direktur Eksekutif IKA Unhas, Salahuddin Alam. Ketiganya memberikan pertanyaan dan masukan terkait strategi bisnis, pemasaran, serta perhitungan keuntungan.

Ketum PWI Akhmad Munir: Pers Tak Akan Mati, Wartawan Harus Adaptif

Peserta pertama, Reslin Amelia, mahasiswi Sastra Daerah Fakultas Ilmu Budaya Unhas, mempresentasikan rencana usaha minuman segar atau fresh drink. Dia melihat peluang bisnis minuman masih terbuka, terutama jika mampu menawarkan cita rasa dan konsep yang berbeda dari produk sejenis.

Suasana presentasi sempat haru saat peserta berikutnya, Nur Al May Syahrah Yanwar dari Fakultas Ilmu Budaya, menceritakan usaha kue yang dijalankannya bersama sang ibu. Usaha tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga setelah ayahnya meninggal dunia pada Maret lalu.

“Bapak meninggal bulan Maret lalu. Makanya bisnis kue ini saya dan mama yang geluti untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” tutur Al May dengan suara bergetar.

Al May berusaha melanjutkan presentasinya meski beberapa kali tak kuasa menahan tangis.
Kisahnya menggambarkan bagaimana usaha yang dirintis mahasiswa tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga menjadi upaya membantu keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan pendidikan.

Di sela-sela presentasi, para penguji memberikan sejumlah masukan, termasuk mengenai strategi pemasaran dan perhitungan keuntungan.
Salahuddin Alam mengingatkan bahwa program tersebut bertujuan membentuk mahasiswa menjadi pengusaha mandiri yang terlibat langsung dalam menjalankan bisnisnya.

“Untuk adik-adik, pahami bahwa kami ingin kalian belajar berwirausaha pada program ini. Tetapi usaha itu harus dilakukan oleh kalian, bukan orang lain,” kata Salahuddin.

Dari 33 calon peserta, sebagian besar mengajukan ide usaha makanan dan minuman. Selain itu, terdapat rencana bisnis di bidang sembako, konveksi, penjualan pakaian, jasa makeup artist (MUA), hingga usaha menjahit.

Salah satu gagasan yang menarik perhatian datang dari Putri Salsabila, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas. Dia mengajukan rencana usaha penjualan sekam padi, bisnis yang sebelumnya dijalankan kedua orang tuanya.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dunia, Putri berupaya melanjutkan usaha tersebut untuk menopang kebutuhan hidup sekaligus membantu membiayai kuliahnya.

“Kami membeli sekam dari pabrik beras lalu kami jual ke perusahaan peternakan. Sekam digunakan untuk alas kandang,” kata Putri.

Dia menjelaskan, usaha penjualan sekam padi tersebut menghasilkan margin lebih dari Rp 1.000 per karung. Meski terlihat sederhana, bisnis itu memiliki pasar tersendiri karena sekam dibutuhkan perusahaan peternakan sebagai alas kandang.

IKA Unhas Dorong Mahasiswa Mandiri Sejak Kuliah
Presentasi rencana bisnis berlangsung mulai pukul 09.30 hingga 15.00 Wita, dengan jeda untuk pelaksanaan salat Jumat. Berbagai gagasan yang disampaikan menunjukkan latar belakang dan peluang usaha yang berbeda di antara para calon peserta.

Sebagian mahasiswa ingin merintis bisnis baru, sementara peserta lainnya berupaya mengembangkan usaha keluarga untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup dan biaya pendidikan.

Melalui Akademi Wirausaha IKA Unhas, dukungan alumni diharapkan tidak berhenti pada pemberian modal. Mahasiswa juga akan mendapatkan kesempatan untuk belajar menyusun perencanaan bisnis, menghitung keuntungan, mengembangkan strategi pemasaran, serta menjaga integritas dalam menjalankan usaha.

Program ini diharapkan menjadi salah satu upaya mendorong kemandirian ekonomi mahasiswa sejak bangku kuliah. Dengan dukungan modal dan pendampingan yang tepat, para peserta diharapkan mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan sekaligus membuka peluang ekonomi di masa mendatang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *